BEWARA!
You are here: Home >> Berita Sumedang >> Produksi Susu KSU Tandang Sari Sumedang Terus Turun

Produksi Susu KSU Tandang Sari Sumedang Terus Turun

Ilustrasi: budidayasapiperah.wordpress.com
SUMEDANG, Produksi susu Koperasi Serba Usaha (KSU) Tandang Sari Sumedang terus mengalami penurunan sejak 2008 silam, dari 40 ton per hari menjadi hanya 25 ton susu per hari.
Ketua Bidang I Organisasi KSU Tandang Sari, Mamat menjelaskan, saat ini koperasinya menaungi 28 kelompok peternak dengan estimasi 50 orang anggota per kelompok. Peternak mampu menghasilkan 25 ton susu per hari dari 3.000 ekor sapi.
“Pada 2008, jumlah peternak mencapai 1.800 orang dengan produksi susu 40 ton/ hari. Pada awal 2011 sampai dengan sekarang, jumlahnya terus berkurang,” katanya kepada Bisnis di Sumedang, Senin (29/10).
Dia menjelaskan, penurunan produksi terjadi salah satunya karena pendapatan yang tidak menutupi biaya operasional. Misalnya, biaya hidup satu ekor sapi mencakup pakan, perawatan, dan pemeriksaan kesehatan mencapai Rp32.000/ hari.

Namun, susu yang dihasilkannya hanya 10 liter/ hari dan bernilai Rp 30.000. Walaupun biaya operasional tinggi, harga susu tidak bisa naik begitu saja, karena yang menentukan ialah Industri Pengolahan Susu (IPS).

“Masalahnya, peternak tidak bisa menegosiasi harga dengan IPS,” tutur Mamat.
Oleh karena tidak menutupi biaya operasional, banyak sapi susu yang dialihkan menjadi sapi potong. Biasanya hal itu dilakukan saat hari-hari besar, di mana harga daging melonjak naik.
Menurut Mamat, kendala utama datang dari kolektor susu ilegal. Kolektor ini masuk ke desa-desa dan membeli susu langsung dari peternak, termasuk peternak yang menjadi anggota KSU. Padahal, KSU sudah mengeluarkan biaya untuk pelayanan kesehatan, IB (Inseminator Buatan), penjualan konsentrat dengan harga subsidi, dan asuransi bila peternak meninggal.
“Peternak tetap menjual susu ke kolektor dengan selisih harga Rp100/ liter,” ujar Mamat.
Dalam sehari, kolektor mampu menampung 3 ton susu, tanpa adanya uji kelayakan kualitas. Mereka juga membeli susu dari sapi yang baru melahirkan. Padahal, susu tersebut lebih cair dan kadar PH-nya tinggi. Dalam satu minggu pertama, susu tersebut seharusnya dikhususkan untuk anak sapi. Kekurangannya bagi konsumen, susu ini cepat basi dan teksturnya mudah pecah.
“Pemerintah seharusnya peduli terhadap masalah ini, karena kesehatan konsumen tidak terjamin,” tambahnya.
Sampai saat ini, KSU mengirimkan susu ke dua industri besar, yaitu Indomilk di Jakarta dan Ultrajaya di Padalarang. Koperasi pun bermitra dengan PT. Tanjung Sari Dairy Internasional (TDI) yang bergerak dalam usaha produksi olahan susu, seperti keju dan mentega. Dalam sebulan, KSU memasok 120 liter susu mentah kepada PT. TDI. Selain tiga perusahaan ini, mereka juga menjual ke masyarakat yang bekerja sebagai pengecer. (m04/ajz)
Sumber: bisnis-jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top
More in Berita Sumedang (365 of 534 articles)