BEWARA!
You are here: Home >> Artikel >> Penelitian Tentang Perkotaan Kuno di Dayeuh Luhur Kab. Sumedang
Penelitian Tentang Perkotaan Kuno di Dayeuh Luhur Kab. Sumedang

Penelitian Tentang Perkotaan Kuno di Dayeuh Luhur Kab. Sumedang

Sumber Kajian

Sejarah Kerajaan Sumedang Larang

Penelusuran para ahli sejarah, seperti Nina H. Lubis (2000) dan Dedi Supardi Arifin et al. (1994/1995), mengenai sejarah Sumedang dalam zaman sejarah diawali adanya Kerajaan Tembong Agung pada sekitar awal abad ke-16, masa klasik atau Hindu-Buddha sebagai cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan Tembong Agung merupakan bawahan Kerajaan Pajajaran dengan Prabu Tajimalela sebagai raja yang pertama. Prabu Tajimalela merupakan anak Prabu Aji Putih, saudara Prabu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi I. Pusat pemerintahan berada di Leuwi Hideung (sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Darmaraja). Prabu Tajimalela mempunyai dua orang putra, yaitu Prabu Lembu Agung atau Prabu Lembu Peteng Aji dan Prabu Gajah Agung.

Sepeninggal Prabu Tajimalela, Prabu Lembu Agung menggantikan kedudukannya untuk sementara waktu. Hal ini disebabkan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Pemerintahan kemudian dipegang oleh Prabu Gajah Agung. Oleh Prabu Gajah Agung pusat pemerintahan dipindah ke Ciguling (sekarang masuk Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan).

Prabu Gajah Agung selanjutnya digantikan oleh putranya yang bernama Sunan Guling. Kemudian Sunan Guling digantikan putranya Sunan Tuakan yang setelah meninggal dimakamkan di Heubeul Isuk, Desa Cinanggerang, Kecamatan Sumedang Selatan.

Sunan Tuakan kemudian diganti oleh putrinya, Nyi Mas Ratu Istri Patuakan, yang mempunyai suami bernama Sunan Corendra. Setelah wafat Nyi Mas Ratu Istri Patuakan digantikan oleh putrinya Nyi Mas Ratu Inten Dewata yang setelah menjadi ratu bergelar Ratu Pucuk Umun. Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Santri.

Perkawinan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri yang beragama Islam menandai adanya era baru bagi Kerajaan Sumedang Larang. Mulai saat itu agama Islam mulai masuk dan berkembang di Kerajaan Sumedang Larang. Pusat pemerintahan terletak di Kutamaya. Pengganti Ratu Pucuk Umun adalah putranya yang bernama Pangeran Kusumahdinata atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Geusan Ulun.

Pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Saka atau 8 Mei 1579 M, Kerajaan Pajajaran runtuh akibat serangan pasukan dari Kesultanan Banten. Runtuhnya Kerajaan Pajajaran mengakibatkan terjadinya perpecahan wilayah sehingga muncullah kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka dan berdaulat. Dalam suasana kehancuran tersebut, Prabu Geusan Ulun memproklamasikan bahwa Kerajaan Sumedang Larang merupakan penerus Kerajaan Pajajaran dan seluruh bekas wilayah Kerajaan Pajajaran adalah daerah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang.

Wilayah Kerajaan Sumedang Larang meliputi daerah yang di sebelah timur dibatasi oleh Sungai Cipamali, sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Hindia, sebelah barat dibatasi oleh Sungai Cisadane, dan di sebelah utara dibatasi oleh Laut Jawa. Akan tetapi, tidak semua wilayah yang diklaim sebagai wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi daerah kekuasaannya. Daerah-daerah seperti Dayeuh Pakuan Pajajaran menjadi wilayah Kesultanan Banten, Cirebon menjadi kerajaan yang merdeka, dan Galuh menjadi bagian Mataram Islam pada tahun 1595.

Pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun terjadi konflik dengan Cirebon disebabkan dibawa larinya Ratu Haris Baya, istri Pangeran Girilaya. Konflik tersebut didamaikan dengan syarat diserahkannya wilayah Sindangkasih atau Majalengka kepada Cirebon. Selain itu, terjadi pemindahan pusat pemerintahan dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur.

Pada tahun 1610, Prabu Geusan Ulun meninggal dan digantikan oleh putranya Raden Suriadiwangsa yang kemudian bergelar Pangeran Kusumahdinata. Pusat pemerintahan dipindah ke Tegal Kalong. Sementara itu, putra Prabu Geusan Ulun yang lainnya, Pangeran Rangga Gede memerintah sebagian wilayah Kerajaan Sumedang berpusat di Canukur. Tampaknya terdapat dualisme kepemimpinan akibat dari diserahkannya kedudukan raja kepada dua orang putranya.

Pada tahun 1620, Kerajaan Sumedang Larang menjadi daerah bawahan Kesultanan Mataram Islam di daerah Yogyakarta (pada waktu Sultan Agung berkuasa). Selanjutnya, Pangeran Kusumahdinata mendapat gelar Pangeran Rangga Gempol dan diangkat menjadi Bupati Wedana untuk seluruh Pasundan. Dengan demikian riwayat Kerajaan Sumedang Larang sebagai kerajaan berakhir dan statusnya hanya sebagai kabupaten dari Mataram Islam.

Desa Dayeuh Luhur dan Tinggalan Arkeologis

Secara administratif Desa Dayeuh Luhur masuk dalam Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, terletak pada koordinat 107058’50” Bujur Timur dan 6053’42” Lintang Selatan. Seperti arti dari namanya, dayeuh dalam bahasa Sunda yang berarti kota dan luhur yang berarti atas, Desa Dayeuh Luhur terletak di daerah yang tinggi, yaitu di bagian puncak Gunung Rengganis. Desa tersebut dikitari lereng bukit yang cukup terjal.Lokasi ini merupakan ibu kota Kerajaan Sumedang Larang ketika Prabu Geusan Ulun memegang pemerintahan. Di lokasi ini terdapat kompleks makam Prabu Geusan Ulun, tanah lapang, sejumlah bata fragmentaris dan utuh, masjid yang sudah sering direnovasi, pemukiman, dan mata air yang secara turun- temurun sudah dipakai sebagai sumber kebutuhan air bagi warga.

Kompleks Makam Prabu Geusan Ulun

Kompleks makam terletak di sebelah utara areal parkir/terminal Desa Dayeuh Luhur. Kompleks makam lebih rendah dibandingkan dengan areal parkir/terminal. Kompleks makam berupa areal yang berbentuk bukit kecil dengan pintu gapura berbentuk paduraksa. Kompleks terdiri dari tiga bagian besar.

  1. Bagian pertama merupakan kompleks makam umum dan juga para juru kunci kompleks makam.
  2. Bagian kedua dengan tanah yang lebih tinggi dari, di sebelah utara bagian yang pertama berisi makam Ratu Haris Baya dan beberapa makam lainnya. Makam dibatasi oleh tembok keliling dengan pintu gapura paduraksa pada sisi timur. Makam Ratu Haris Baya telah mengalami renovasi. Sekarang makam berupa jirat dan nisan. Jirat berbentuk segi empat berukuran 160 x 160 cm dan bahan dari keramik. Nisan berbahan semen berbentuk kuncup bunga dengan hiasan floral, pipih dan berjumlah dua. Makam berorientasi utara – selatan.
  3. Bagian ketiga terletak pada bagian paling belakang dan teratas dari kompleks makam tersebut. Makam dibatasi oleh tembok keliling dengan pintu gapura paduraksa pada sisi selatan. Kompleks makam berisi makam Prabu Geusan Ulun, makam Rangga Gede, dan beberapa makam lainnya yang tidak dikenal. Makam Prabu Geusan Ulun telah mengalami dua kali renovasi. Sekarang makam tersebut ditandai dengan adanya jirat tiga tingkat dari keramik, berdenah segi empat, berukuran 300 x 200 cm dan berorienrasi utara – selatan. Nisan ganda dari bahan semen setebal 10 cm dengan bentuk segi empat pada bagian badan dan segi tiga pada bagian atasnya dengan variasi lengkung pada bagian bahu dan puncaknya.

Tanah Lapang

Menurut keterangan juru kunci, Aceng Hermawan, areal parkir/terminal Desa Dayeuh Luhur sebelumnya merupakan tanah lapang. Areal berdenah empat persegi panjang berukuran sekitar 50 x 25 m. Sekarang seluruh permukaan areal telah dilapisi dengan aspal dan di bagian selatan area terdapat kios-kios pedagang, toilet, dan pos retribusi.

Masjid

Masjid terletak di sebelah selatan areal parkir/terminal. Masjid telah mengalami beberapa kali renovasi. Berdasar keterangan, di lokasi tersebut sejak dahulu merupakan tempat berdirinya masjid.

Mata Air

Kurang lebih 100 m di sebelah selatan pemukiman penduduk terdapat mata air yang secara turun-temurun digunakan oleh penduduk sebagai sumber air untuk segala keperluan.

Temuan Lepas

Di sebelah timur areal parkir/terminal pernah ditemukan beberapa bata fragmentaris dan utuh pada kedalaman sekitar 50 cm. Bata-bata tersebut disimpan di kompleks makam Prabu Geusan Ulun. Salah satu bata yang utuh mempunyai ukuran 25 x 20 x 8 cm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top
More in Artikel, Seni dan Budaya (25 of 39 articles)
Gunung Tampomas