BEWARA!
You are here: Home >> Artikel >> Penelitian Tentang Perkotaan Kuno di Dayeuh Luhur Kab. Sumedang
Penelitian Tentang Perkotaan Kuno di Dayeuh Luhur Kab. Sumedang

Penelitian Tentang Perkotaan Kuno di Dayeuh Luhur Kab. Sumedang

Pembahasan

Pemilihan Lokasi

Perpindahan ibu kota pusat pemerintahan merupakan hal yang sering terjadi dalam perjalanan sejarah di Indonesia, sejak masa klasik, masa Islam bahkan hingga masa awal-awal terbentuknya Republik Indonesia. Pemindahan tersebut disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena alasan politik, ekonomi, keamanan, dan bencana alam (Sumadio, 1992: 355). Demikian pula halnya dengan pemindahan pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang Larang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur oleh Prabu Geusan Ulun.

Berdasarkan catatan sejarah, pemindahan tersebut kemungkinan besar didasari alasan keamanan. Hal tersebut terlihat adanya konflik dan diikuti peperangan antara pihak Sumedang Larang dan Cirebon. Konflik tersebut diawali dibawa larinya Ratu Haris Baya, salah satu istri Sultan Cirebon Pangeran Girilaya oleh Prabu Geusan Ulun. Akibat peristiwa tersebut, Sumedang Larang mengalami serangan oleh Cirebon.

Penyerangan tersebut tidak menyebabkan kekalahan dan keruntuhan Kerajaan Sumedang Larang. Konflik akhirnya bisa diredakan dan tercapai perdamaian dengan syarat Prabu Geusan Ulun menyerahkan Sindangkasih atau Majalengka ke Cirebon. Konflik diikuti peperangan dan kemungkinan masih adanya penyerangan lagi, besar kemungkinan menyebabkan pemindahan pusat pemerintahan oleh Prabu Geusan Ulun dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur. Pemilihan lokasi yang susah dijangkau kemungkinan besar menjadi pilihan utama dalam proses tersebut.

Selain faktor keamanan akibat adanya konflik, kemungkinan besar pemilihan tersebut juga dilandasi oleh aspek lain yang bersifat magis religius. Kemungkinan tersebut dilandasi adanya tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat hingga sekarang berupa adanya tujuh sumur, yaitu Ciasihan/Ciginasihan, Cikajayan, Cikahuripan, Cikawedukan, Ciderma, Ciseger/Menceger, dan Cipaingan; yang terletak tidak jauh dari lokasi tersebut. Ketujuh sumur tersebut dikaitkan dengan legenda raja pertama Kerajaan Sumedang Larang, Prabu Tajimalela, yang mencari tempat yang cocok untuk menguji kesaktiannya. Setelah mencari beberapa tempat untuk menguji namun gagal, akhirnya di Dayeuh Luhur Prabu Tajimalela menemukan tempat yang sesuai.

Unsur dan Tata Kota

Dayeuh Luhur merupakan ibu kota kedua Kerajaan Sumedang Larang pada masa Islam setelah Kutamaya. Pada masa masuk dan berkembang Islam di Indonesia terdapat suatu fenomena, yaitu tumbuh dan berkembangnya kota-kota dengan unsur-unsur pembentuk kota yang ditata menjadi suatu pola yang berlaku secara umum.

Unsur yang biasanya ada dalam kota adalah adanya tempat tinggal penguasa (keraton untuk kota pusat kerajaan dan kabupaten untuk kota pusat pemerinthan kabupaten), alun-alun, masjid sebagai tempat ibadah masyarakat yang mayoritas beragama Islam, pasar sebagai pusat kegiatan perekonomian, dan pemukiman. Unsur tersebut ditata dengan keraton terletak di sebelah selatan alun-alun, masjid terletak di sebelah barat alun-alun, pasar terletak di sebelah utara alun-alun, dan pemukiman tersebar di lahan lainnya. Pola tersebut tidak selamanya berlaku, namun kadang-kadang menyesuaikan dengan kondisi geografis lokasi kota (Tjandrasasmita, 1992: 218–222).

Data arkeologis di Desa Dayeuh Luhur selain kompleks makam Prabu Geusan Ulun adalah adanya temuan sejumlah bata di sebelah timur lokasi lapang parkir atau terminal desa. Sementara itu data dari penelusuran toponimi yang diperoleh di lapangan adalah adanya keterangan bahwa lapang parkir dahulunya merupakan tanah lapang. Keterangan lain adalah adanya masjid desa yang letaknya tidak pernah dipindahkan. Unsur lain yang tidak ada adalah pusat kegiatan perekomomian, yaitu pasar. Apabila sedikit keterangan tersebut dijadikan upaya mencari pola tata kota Dayeuh Luhur, kemungkinan besar pola yang pernah berlaku adalah sebagai berikut.

Unsur-unsur kota Dayeuh Luhur meliputi alun-alun, masjid, pemukiman, dan keraton. Alun-alun didasari keterangan bahwa lapang parkir sebelumnya merupakan tanah lapang. Masjid didasari keterangan belum pernah dipindahnya lokasi masjid serta adanya kebiasaan untuk melanjutkan fungsi masjid secara berkelanjutan. Pemukiman didasari adanya kelanjutan fungsi sebagai pemukiman, artinya tidak pernah ditinggalkan oleh penghuni meskipun fungsi sebagai ibu kota telah hilang. Keraton didasari adanya temuan sejumlah bata yang mengindikasikan adanya bangunan yang lebih kokoh dan mewah dibandingkan dengan kebiasaan masyarakat Sunda yang membangun rumah dengan bahan yang tidak permanen, misalnya bambu dan kayu.

Unsur-unsur tersebut diatur mengikuti pola umum yang berlaku pada masa Islam, yaitu alun-alun sebagai pusat, keraton sebagai tempat tinggal raja menghadap ke barat terletak di sebelah timur alun-alun, dan masjid terletak di sebelah selatan alun-alun. Sementara itu, pemukiman terdapat di sebelah selatan alun-alun dan keraton.

Penutup

Desa Dayeuh Luhur sebagai bekas ibu kota Kerajaan Sumedang Larang yang terletak di bagian puncak Gunung Rengganis secara alamiah memberi perlindungan dari kemungkinan gangguan keamanan. Hal tersebutlah yang kemungkinan besar alasan dipilihnya lokasi tersebut sebagai ibu kota pada waktu situasi politik dan keamanan dipandang tidak kondusif oleh Prabu Geusan Ulun. Berdasarkan hasil penelitian, unsur-unsur pembentuk kota relatif sedikit berupa alun-alun, keraton, masjid, dan pemukiman. Unsur-unsur tersebut ditata mengikuti pola tata kota masa Islam.

Kesimpulan tersebut bersifat sementara. Hal tersebut disebabkan data pustaka dan data arkeologis yang diperoleh dalam penelitian relatif sedikit, terutama data arkeologis. Sedikitnya data arkeologis yang terjaring disebabkan pada penelitian kali ini baru pada tahap awal berupa pengamatan di lapangan yang belum diikuti dengan ekskavasi. Adanya temuan beberapa bata oleh penduduk mengindikasikan kemungkinan adanya data lain yang masih terpendam dalam tanah yang perlu untuk diteliti lebih lanjut.

Di samping itu, keterangan berupa toponimi sebagai salah satu pelengkap upaya mengungkap gambaran kehidupan masa lampau tergolong sedikit. Berdasarkan data yang relatif sedikit sangatlah sukar untuk menarik kesimpulan tentang unsur dan tata kota Dayeuh Luhur sebagai salah satu ibu kota Kerajaan Sumedang Larang secara tuntas. Dengan demikian, simpulan dalam kesempatan ini baru bersifat sementara.

Daftar Pustaka

Arifin, Dedi Supardi et al.1994/1995 “Sejarah Kebupatian Sumedang”. Dalam Laporan Penelitian. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Hlm. 1–44.

Lubis, Nina H.2000 “Sumedang”. Dalam Nina H. Lubis, et al. Sejarah Kota-kota di Jawa Barat. Bandung : Alqaprint. Hlm. 71–90.

Sumadio, Bambang ed.1992 “Jaman Kuna”. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Tjandrasasmita, Uka ed.1992 “Jaman Pertumbuhan dan Perkembnagan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia”. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.

Catatan:
Tulisan ini dimuat di buku berjudul “Arkeologi dari Lapangan ke Permasalahan”, hlm. 103-110. Editor Edi Sedyawati. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2006.

Sumber: Arkeologisunda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top
More in Artikel, Seni dan Budaya (25 of 39 articles)
Gunung Tampomas