Infosumedang.com – Belasan siswa sekolah di Kabupaten Sumedang dilarikan ke Puskesmas dan Rumah sakit setempat setelah terjadinya keracunan masal usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program pemerintah dalam meningkatkan gizi pelajar.
Program yang digadang-gadang sebagai upaya meningkatkan gizi pelajar ini, kembali menuai sorotan keras dan menimbulkan kecemasan para orangtua murid dimana kejadian serupa telah beberapa kali terjadi selain dari kabupaten Sumedang.
Dari beberapa Informasi yang dikumpulkan wartawan, puluhan siswa di Kecamatan Ujungjaya dan Situraja, Kabupaten Sumedang pada Kamis (26/9/2025) diduga mengalami keracunan massal usai menyantap makanan MBG.
Diketahui, sebanyak 50 siswa SMK WIN, 12 siswa SMA Tomo dan 9 siswa di Kecamatan Situraja mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, diare, demam, hingga sesak napas.
Hal tersebut sigap ditangani tim medis dari Puskesmas Ujungjaya, Tomo, dan Cimalaka yang turun langsung, dibantu aparat TNI/ Polri hingga menerjunkan enam unit ambulans untuk proses evakuasi siswa ke fasilitas kesehatan agar segera mendapatkan perawatan intensif.
Dengan kejadian seperti ini apalagi telah terjadi dibeberapa tempat, tentunya menjadi kecemasan publik dan menimbulkan pertanyaan, sejauh mana kualitas dan keamanan makanan MBG, apakah benar-benar diawasi secara teliti sebelum dibagikan ke siswa ?
Karena, jika pengawasan lemah maka dana besar yang digelontorkan untuk MBG, justru berubah menjadi ancaman kesehatan bagi anak-anak pelajar dan pertanyaan soal kelalaian, siapa atau pihak mana yang menyebabkan puluhan siswa terkapar.
Hingga berita ini diterbitkan, media masih menunggu keterangan resmi mengenai siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana evaluasi menyeluruh akan dilakukan, karena saat ini pemkab Sumedang tengah menggelar rapat koordinasi bersama seluruh stakeholder program MBG untuk evaluasi quality kontrol mulai dari kelayakan dapur, kebersihan hingga aturan pendistribusian.
Karena tanpa pengawasan ketat dan sistem kontrol yang jelas, program MBG terancam hanya menjadi slogan politik, sementara keselamatan siswa justru dipertaruhkan











