SUMEDANG – Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, banyak orang merasa gelisah. Dalam kondisi itu, tak sedikit yang mencari tempat untuk “menenangkan diri”. Di Tanah Sunda, nama terus disebut sebagai sosok yang menjadi sandaran banyak jiwa.
Di , ribuan orang datang—bukan hanya untuk menimba ilmu agama, tapi untuk menemukan kembali arah hidup yang hilang. Ada yang datang dengan hati gelisah, ada yang datang karena hidupnya terasa berat dan tak menentu.
Abah Anom tidak banyak janji, namun mereka yang datang selalu mendapatkan sesuatu yang langka: ketenangan batin.
Sebagai mursyid Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah, beliau meneruskan jalan yang dirintis oleh ayahnya, . Yang membuatnya berbeda adalah pendekatan beliau: lembut, manusiawi, dan menyentuh hati siapa saja yang datang.
Salah satu jalan yang beliau tempuh adalah program “Inabah”, metode pembinaan spiritual yang membantu banyak orang “bangkit kembali” dari keterpurukan. Banyak yang mengatakan, dari sini hidup mereka mulai berubah, dari gelisah menjadi tenang, dari kehilangan arah menjadi punya tujuan.
Suryalaya menjadi saksi perjalanan ribuan jiwa yang menemukan ketenangan. Meski Abah Anom telah wafat, pengaruhnya tetap terasa. Hingga kini, banyak yang datang untuk berziarah, menimba nasihat, atau sekadar merasakan ketenangan yang dulu menenangkan begitu banyak jiwa.
Di dunia yang semakin kompleks, sosok Abah Anom menjadi pengingat bahwa yang dibutuhkan manusia bukan sekadar solusi instan, tetapi juga tempat untuk kembali, untuk menenangkan diri, dan menemukan ketenangan batin yang sejati.(Dhs)









