Beranda / Wisata / Garis Tiga di Kening Maragan: Mengenal Tokoh Priangan yang disemayamkan di Sumedang

Garis Tiga di Kening Maragan: Mengenal Tokoh Priangan yang disemayamkan di Sumedang

Info Sumedang | Tanjungsari, Sumedang– Di balik rimbunnya pepohonan di Dusun Anawadak, Desa Margajaya, Kecamatan Tanjungsari, terdapat sebuah makam tua yang nyaris tak terawat. Di situlah Maragan—panggilan akrab dari Rd. Djajawigoena—disemayamkan.

Namanya kini hampir hilang dari ingatan. Tidak ada arsip di kantor desa. Tidak ada catatan di perpustakaan daerah. Bahkan di dunia maya, jejaknya pun nyaris tak ditemukan.

Padahal, pada zamannya, Maragan adalah tokoh masyarakat yang disegani di wilayah Kabupaten Parakan Muncang—sebuah kabupaten yang kini telah bergabung menjadi Kabupaten Sumedang.

Baca Juga : Jumat Berkah Koramil Tanjungsari, Makan Siang Gratis Tanpa Sekat dengan Rakyat

Penelusuran yang dilakukan sejak awal Juli 2026 mengungkap fakta bahwa keturunan Maragan tersebar luas di berbagai pelosok Jawa Barat. Mereka menjadi aparat TNI, pemuka agama, tokoh masyarakat, pengurus organisasi kemasyarakatan, hingga jurnalis.

Penulis masih terus menelusuri jejak keturunannya hingga saat ini. Banyak cabang keluarga yang belum terdata, dan pencarian masih berlangsung.

Catatan Pelurusan

Berbeda dengan narasi yang sempat beredar di beberapa sumber daring yang menyebut Maragan sebagai “kepala desa pertama Ciluluk”, tulisan ini sengaja tidak mengulang klaim tersebut. Minimnya arsip di tingkat desa dan kecamatan membuat penulis memilih menyebut Maragan sebagai tokoh masyarakat dan pemimpin yang berpengaruh—sebuah fakta yang diakui oleh para keturunan dan warga setempat.

Tulisan ini hadir untuk meluruskan catatan sejarah berdasarkan penelusuran faktual, bukan sekadar menyalin narasi lama yang belum terverifikasi.

Siapa Maragan?

Maragan adalah panggilan akrab dari Rd. Djajawigoena. Ia adalah tokoh masyarakat di wilayah Kabupaten Parakan Muncang, Kawadanaan Tanjungsari—kini Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

Pada zamannya, Maragan dikenal sebagai sosok pemimpin yang berpengaruh. Namun seiring waktu, namanya perlahan menghilang dari catatan sejarah.

Ciri Khas yang Tak Terlupakan

Maragan memiliki ciri fisik yang khas: tiga garis vertikal di antara dua alisnya. Ciri ini diwariskan secara turun-temurun kepada sebagian keturunannya.

Salah satu keturunan Maragan, Wawa, mengatakan garis tiga itu bukan sekadar tanda fisik.

“Garis tiga di kening itu pengingat bahwa kami berasal dari satu akar. Kami harus saling menjaga dan tidak tercerai-berai,” ungkap Wawa kepada InfoSumedang.com.

Makam Maragan di Dusun Anawadak, Margajaya

Makam Maragan terletak di Dusun Anawadak, Desa Margajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Kepala Desa Margajaya, Ruhiyat, yang juga merupakan keturunan Maragan, beberapa waktu silam mengiyakan bahwa makam Maragan memang berada di dusun tersebut.

Namun kenyataan di lapangan berbeda. Kondisi makam tersebut kini memprihatinkan. Nisan makamnya memang masih ada dengan tulisan “Maragan Rd. Djajawigoena”, namun gundukan tanahnya nyaris tak terawat dan dikelilingi ilalang yang tumbuh lebat.

Sdr. Bana, seorang warga Parakan Muncang, mengungkapkan fakta menarik di balik kondisi makam tersebut.

“Upaya untuk merawat makam Eyang Maragan sebenarnya sudah pernah dilakukan. Kami sempat membuat bangunan sederhana di atas makam. Tapi bangunan tersebut diruntuhkan kembali karena sesuatu hal yang tidak bisa saya omongkan,” tutur Bana dengan nada tertutup.

Pernyataan ini menambah tanda tanya besar. Siapa yang meruntuhkan? Mengapa? Dan mengapa alasan di baliknya tidak bisa diungkapkan?

Yang jelas, makam Maragan kini kembali telantar—dengan nisan yang masih terbaca tapi nyaris tenggelam di antara ilalang yang merambat tinggi.

Keturunan Maragan Tersebar di Berbagai Wilayah dan Profesi

Penelusuran menunjukkan keturunan Maragan tidak hanya berada di Sumedang. Mereka tersebar di Tasikmalaya, Bandung, Cianjur, dan berbagai pelosok Jawa Barat.

Di jajaran TNI, beberapa Babinsa dan Bhabinkamtibmas di wilayah Sumedang tercatat sebagai keturunan Maragan.

Di bidang keagamaan, salah satu putra Maragan, Raksa Praja atau Mama Alijan, pindah ke Tasikmalaya dan dikenal sebagai Ajengan Sukamanah. Banyak keturunan Maragan lainnya yang menjadi pemuka agama di berbagai daerah.

Di organisasi kemasyarakatan, keturunan Maragan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Di dunia jurnalistik,

Penulis masih terus menelusuri jejak keturunan Maragan lainnya hingga kini. Banyak informasi yang belum terungkap, dan pencarian silsilah keluarga besar Maragan masih berlangsung.

Inisiasi Pencatatan Silsilah oleh Kapten Mamat Barkah

Asep Roni, yang bertugas di Kodim 0610/Sumedang, mengenang inisiasi yang pernah dilakukan Kapten Mamat Barkah.

“Sebaiknya sebelum ada kumpulan di arsipkan perkeluarga, seperti yang pernah Pak Kapten Mamat Barkah lakukan, yaitu mencatat dan membagi keturunan Maragan dari jalur anak cucunya,” ujar Asep Roni.

Langkah ini penting untuk memetakan rantai keturunan yang kini tersebar di berbagai pelosok Jawa Barat.

Sejarah Parakan Muncang dan Tanjungsari

Kabupaten Parakan Muncang kini telah bergabung dengan Kabupaten Sumedang. Kawadanaan Tanjungsari berubah menjadi Kecamatan Tanjungsari.

Sejarah mencatat, Tanjungsari pernah menjadi ibu kota Kabupaten Parakanmuncang hingga tahun 1811. Di tengah perubahan itulah, Maragan hadir sebagai tokoh yang turut mewarnai kepemimpinan lokal pada zamannya.

Harapan dan Ajakan untuk Keturunan Maragan

Dua harapan

Pertama, seluruh keturunan Maragan di mana pun berada—di Sumedang, Tasikmalaya, Bandung, Cianjur, atau daerah lainnya—tergerak untuk mempererat silaturahmi dan mencatat silsilah keluarga secara komprehensif.

Kedua, pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten di seluruh Jawa Barat terdorong untuk mendokumentasikan tokoh-tokoh seperti Maragan sebelum benar-benar hilang dari ingatan kolektif.

“Saya ingin anak cucu Maragan, dari Sumedang hingga pelosok Jawa Barat, tidak hanya mendengar cerita lisan. Mereka bisa membaca dan bangga bahwa mereka berasal dari keturunan tokoh yang berkontribusi bagi masyarakat Priangan,” pungkas herman

Bagi Keturunan Maragan yang Ingin Mendaftarkan Silsilah

Penulis mengajak seluruh keturunan Maragan untuk berbagi informasi dan mendaftarkan silsilah keluarga.

Informasi dapat disampaikan melalui:

· Email: [lenteraikhwan@gmail.com]
· Atau langsung berkunjung ke makam Maragan di Dusun Anawadak, Desa Margajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

Kata Warga

Sdr. Parlan, seorang warga Tanjungsari, mengakui Maragan layak dikenang.

“Eyang Maragan itu orang yang dihormati. Keturunannya sekarang banyak yang jadi pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pejabat. Makamnya di Dusun Anawadak masih sering diziarahi,” tuturnya.

Ia juga berharap kelak ada perhatian lebih dari pemerintah desa setempat agar makam leluhur tersebut tidak terus terbengkalai.

Hingga saat ini, penulis masih terus menelusuri jejak keturunan Maragan di berbagai daerah. Banyak cabang keluarga yang belum terdata, dan pencarian masih berlangsung.**(Dhs)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *