Info Sumedang| CIGENDEL – Kepala Desa Cigendel, Mulyana, menegaskan bahwa pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Dusun Cihonje RT.02 RW.04 berlokasi di atas aset desa berupa tanah carik seluas 30 hektare, dan bukan pada lahan sawah lindung. Progres pembangunan fisik saat ini telah mencapai 55 persen.
“Tanah yang digunakan untuk pembangunan KDMP ini adalah aset Desa Cigendel. Seluruhnya seluas 30 hektare merupakan tanah carik desa,” ujar Mulyana di lokasi pembangunan, Minggu (5/7/2026).
Baca Juga : Sekda Sumedang Ajak ASN Perkuat Budaya Kerja Berbasis Data Pasca Masuk 5 Besar PPD 2026
Sebelum pembangunan dimulai, telah digelar musyawarah yang melibatkan seluruh unsur masyarakat Desa Cigendel untuk memastikan restu dan dukungan warga. Mulyana pun menegaskan kembali bahwa lokasi proyek bukanlah kawasan sawah yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.
“Saya tegaskan, ini bukan lahan sawah yang dilindungi. Ini adalah tanah desa yang telah kami musyawarahkan dan disepakati bersama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat,” tandasnya.

Kehadiran KDMP diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Mulyana optimistis koperasi ini akan memberikan kemudahan akses permodalan serta menampung hasil produksi warga. Tokoh masyarakat, Pak Eno, berharap hasil tani petani dapat terserap dengan baik melalui KDMP. Sementara Cucu, pengrajin tape asal Kampung Cikohkol, juga berharap keberadaan KDMP memberi manfaat bagi pengrajin dari sisi pemasaran dan permodalan.
Namun, tidak semua warga menaruh keyakinan tanpa catatan. UD, warga Desa Cigendel, menyampaikan pandangan berimbang. Ia setuju asalkan dikelola dengan benar, tetapi tidak setuju jika proyek itu terbengkalai di tengah jalan.
“Setuju tidak setuju, setujunya kalau di-manage dengan benar, tidak setujunya kalau terbengkalai. Karena banyak contoh di desa kami pembangunan yang terbengkalai, seperti Pembangunan TPS3R,” kenang UD.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting agar KDMP benar-benar dikelola secara profesional dan berkelanjutan, tidak sekadar terbangun fisiknya lalu terbengkalai.
Babinsa Desa Cigendel, Asep Nurdin Firmansyah, melaporkan bahwa progres pembangunan fisik saat ini mencapai 55 persen. “Kami terus mengawal agar pembangunan berjalan lancar dan sesuai dengan rencana,” jelas Asep.
Pembangunan KDMP sendiri merupakan program prioritas yang diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian desa. Namun, seperti yang diingatkan UD, harapan besar ini hanya akan terwujud jika pengelolaan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi kegagalan seperti TPS3R.(Dhs)











