InfoSumedang.com – Upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Sumedang menunjukkan hasil menggembirakan. Beberapa kecamatan bahkan mencatat perbaikan signifikan dibandingkan tahun 2024, seperti Cimanggung, Situraja, dan Tomo.
Dinas Kesehatan Sumedang melalui UPTD Puskesmas terus melakukan berbagai intervensi terhadap balita yang teridentifikasi stunting. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain edukasi dan konseling kepada keluarga (99,82 persen), pelaporan ke puskesmas (98,95 persen), kunjungan ulang (78,67 persen), pemantauan perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) (56,27 persen), serta rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan (3,77 persen).
Meski demikian, sejumlah faktor determinan masih menjadi penyebab stunting di Sumedang. Dari hasil analisis data, kebiasaan merokok di dalam rumah tercatat sebagai faktor tertinggi (89,70 persen), disusul dengan keluarga yang belum memiliki JKN/BPJS (44,94 persen), ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronik atau KEK (10,41 persen), dan balita yang belum diimunisasi (3,38 persen).
Selain itu, faktor lain seperti penyakit penyerta, kecacingan, tidak memiliki jamban sehat, dan keterbatasan akses air bersih juga turut berkontribusi terhadap kasus stunting di beberapa wilayah.
“Kami terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar intervensi terhadap faktor-faktor tersebut bisa lebih efektif. Harapannya, tidak hanya angka stunting yang turun, tapi juga kualitas hidup anak-anak Sumedang meningkat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dikdik.
Ia menambahkan, capaian penurunan stunting tahun ini mencerminkan komitmen Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam mewujudkan generasi sehat dan berdaya saing melalui pendekatan konvergensi berbasis data.
“Capaian ini tentu harus dijaga bersama. Kami ingin memastikan setiap anak Sumedang tumbuh sehat, kuat, dan cerdas sebagai investasi masa depan daerah,” pungkasnya.***









