Infosumedang.com – Gelap Nyawang Nusantara (GNN), mengikuti Simposium dengan pemateri dari Akademisi UNPAD, Bidang Antrofologi, Sosiologi dan Ilmu Komunikasi. dengan topik bahasan membangun jaringan masyarakat budaya Nusantara di Sabusu Jatinangor pada, Minggu (11/1/2026)
GNN selaku peserta Simposium, merasa bangga dan sangat berterimkasih kepada para pemberi materi yang sudah memberikan pencerahan dan membuka wawasan lebih luas dalam memahami budaya nusantara warisan leluhur kita yang dimana dengan gamblang di bedah dalam sisi keilmuan Antrofologi, Sosiologi dan Ilmu Komunikasi.
Ketua GNN Sumedang, Asep Riyadi mengungkapkan, dimana dalam presfektip dirinya selaku orang awam dalam pendalaman sejarah budaya nusantara sangat terpukau atau bahasa sundanya (Hookeun Kataji),
” Ya, dengan begitu tingginya budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita tersebut. Dimana berdasarkan hasil penelitian dan kajian beliau beliau, dijadikan temuan tatacara budaya hidup dan bermasyarakat oleh para peneliti barat yang selama ini di gaungkan di dalam kampus dan seminar – seminar budaya skala Internasional,” tegasnya
Menurutnya, ternyata banyak yang sudah biasa atau kebiasaan adat istiadat para leluhur kita. Dengan contoh nyatanya dalam kehidupan di masyarakat sunda yang masih bisa di lihat di kampung adat Baduy, Ciptagelar, Kampung Naga dan Lainnya.
Asep juga menambahkan kalau apa yang ada diteliti dan ditemukan oleh para peneliti Barat tersebut sebenarnya sudah biasa dan menjadi kebiasaan yang turun trmurun dilakukan di masyarakat Sunda jauh sebelum pihak Barat menyampaikan temuan hasil teori dari hasil kajian dan penelitiannya.
GNN berharap Simposium ini menjadi agenda rutin dilaksanakan oleh pihak UNPAD yang bisa dijadikan referensi atas sejarah budaya Nusantara secara imum dan budaya sunda khususnya.
Dimana hasil simposium ini, tambah Asep, dapat dijadikan dasar atau referensi oleh kami untuk menjadi bagian pembelajaran dan pengetahuan generasi muda khususnya di tingkat SD dan Masyarakat Umum Secara Luasnya.
“Saya selaku orang Sunda sangat bangga manakala banyak hasil temuan oleh pihak barat yang menetapkan bahwa peradaban dan budaya Sunda sudah lebih maju dan lebih tinggi diantara budaya suku dan bangsa lain, dimana menurut penjelasan para pemberi materi,” lanjut Asep
Indikator nyatanya adalah adanya bahasa sendiri, huruf Sendiri, sistem kalender sendiri dan artefak/perkakas serta temuan lainnya yang tidak bisa ditemukan di budaya bangsa dan suku lainnya.
Dalam penutup Sumposium tadi, saya menyimak adanya kalimat utama yang sangat teresapi, yaitu bagaimana kita bisa menjadi bagian dari masyarakat berbudaya sunda yang sebenarnya. Yaitu masyarakat yang bisa berlaku baik jepada sesama, kepada alamnya dan kepada Sang penciptanya dengan menjalankan semua jehidupannya dalam konteks masyarakat berbudaya seutuhnya.
Akhir kalimat Asep berterimakasih atas pencerahannya kepada Kakang Wahyu Gunawan (Sosilogi), Kakang Ira Indrawardana (Antofologi) dan Kakang Samson (Ilmu Komunikasi).
“Semoga budaya Nusantara khususnya budaya Sunda selalu berjaya didalam kehidupan nyata masyarakatnya dan di tunggu Simposium edisi berikutnya,” tutupnya











