INFO SUMEDANG ,TANJUNGSARI – Temuan produk Bolu Susu Lembang berjamur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebon Hui, Desa Margajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial.
Kasus ini mencuat setelah unggahan di sebuah grup Facebook yang menampilkan kondisi bolu diduga berjamur beredar luas dan dibagikan oleh warganet. Hingga saat ini, redaksi belum dapat memverifikasi secara independen seluruh konten visual yang beredar di media sosial tersebut.
Namun demikian, pihak SPPG Kebon Hui mengonfirmasi adanya temuan produk yang tidak layak konsumsi dan telah melakukan penarikan.
Berdasarkan data di lapangan, sebanyak 142 dari 641 paket bantuan yang didistribusikan dalam momentum Lebaran teridentifikasi mengalami kerusakan berupa bintik jamur pada permukaan produk.
Kepala SPPG Kebon Hui, Fajar Ramadan, S.I.P., menyatakan bahwa kejadian ini merupakan yang pertama sejak operasional berjalan sekitar enam bulan terakhir.
“Kami bertanggung jawab penuh dan telah mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pihak supplier,” ujarnya, Kamis (19/3).
Pihak SPPG menyebutkan bahwa produk tersebut dipasok oleh salah satu supplier yang berbasis di wilayah Gunung Puyuh, Sumedang, dan saat ini proses klarifikasi terhadap pihak terkait masih berlangsung.
Baca Juga : Klarifikasi Bolu Berjamur di Sumedang, Kepala SPPG Kebonhui Minta Maaf dan Ganti dengan Wafer
Warga Kaget, Hampir Dikonsumsi Anak
Salah seorang orang tua penerima manfaat mengaku terkejut saat mendapati kondisi makanan yang diterima.
“Saya kaget, pas dibuka ternyata bolunya sudah ada bintik jamur. Tadinya mau dikasih ke anak,” ujarnya.
Pengakuan tersebut menambah kekhawatiran masyarakat, mengingat program MBG menyasar kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat laporan warga yang mengalami gangguan kesehatan atau keracunan akibat kejadian tersebut.
Target Zero Accident Jadi Sorotan
Temuan ini memunculkan pertanyaan terhadap komitmen Badan Gizi Nasional (BGN) dalam mewujudkan target zero accident atau nol insiden pangan dalam program MBG.
Dalam Siaran Pers BGN Nomor: SIPERS-06/BGN/01/2026 (8 Januari 2026), Kepala BGN Dadan Hindayana sebelumnya menegaskan bahwa program ini ditargetkan menghasilkan makanan yang tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi.
Target tersebut juga disebut sebagai bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar tidak terjadi insiden keracunan pangan di lapangan.
Namun dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR pada Januari 2026, BGN mengakui masih adanya kejadian yang berkaitan dengan pelanggaran standar operasional.
Kondisi di Sumedang ini pun dinilai sebagai indikator adanya celah dalam implementasi pengawasan di tingkat lapangan.
Sistem Pengawasan Dipertanyakan
BGN sebelumnya telah menetapkan sistem pengawasan berlapis, termasuk melalui dokumen Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK), serta kerja sama dengan BPOM dalam pengujian keamanan pangan.
Selain itu, terdapat sejumlah aturan teknis yang harus dipenuhi oleh SPPG, mulai dari waktu produksi, penggunaan bahan, hingga kewajiban pengujian bahan baku.
Namun, temuan produk berjamur ini memunculkan pertanyaan apakah seluruh prosedur tersebut telah dijalankan secara optimal.
Peran tenaga nutrisionis yang menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan juga turut menjadi sorotan dalam insiden ini.
Kepercayaan Publik Jadi Taruhan
Meski tidak menimbulkan korban, kejadian ini dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap program MBG.
Program yang digagas sebagai upaya strategis peningkatan kualitas sumber daya manusia ini sangat bergantung pada jaminan keamanan pangan yang diterima masyarakat.
Ketika temuan makanan tidak layak konsumsi muncul di lapangan, kekhawatiran publik terhadap kualitas distribusi menjadi tak terhindarkan.
Langkah Penanganan dan Evaluasi
Sebagai langkah penanganan, pihak SPPG Kebon Hui telah menarik seluruh produk bermasalah dan menggantinya dengan produk lain yang dinilai lebih tahan lama.
Pihak pengelola juga menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses distribusi dan pengawasan setelah momentum Lebaran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Badan Gizi Nasional pusat maupun pihak supplier terkait temuan tersebut.
Publik kini menunggu langkah lanjutan yang akan diambil guna memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.(Dhs)











